Sejarah Bangsa Arab : Kondisi Sosial Budaya Bangsa Arab Sebelum Islam

Jumat, Agustus 11, 2017

    Benarkah bangsa Arab hanyalah sekumpulan suku terbelakang yang hanya memiliki kebiasaan membunuh, minuman keras, mengubur bayi perempuan serta berbagai perilaku menyimpang lainnya seperti yang tercantum dalam sejumlah buku sejarah dan media? Ataukah sebenarnya bangsa Arab sebelum telah memiliki peradaban dan akhlak mulia yang menjadikan mereka sebuah kaum yang paling siap menerima risalah tauhid terakhir?!
    Kebanyakan dari kita menganggap bahwa bangsa Arab sebelum Islam hanyalah suku primitif, yang tidak memiliki peradaban manusiawi sedikitpun serta menganggap bahwa Islam lahir saat bangsa Arab tenggelam dalam keterbelakangan sosial dan budaya. Namun, pendapat ini memiliki konsekuensi yang berbahaya dari sisi sejarah, sisi syariah, dan pendapat ini tidaklah sesuai dengan fakta sejarah. Semua ini justru merendahkan asal-usul Nabi kita Muhammad ibnu Abdillah Al-Hasyimi Al-Qurasyi Al-Arabi.
    Bangsa Arab pada fase sebelum Islam yang lantas dikenal sebagai masa jahiliyah sebenarnya tidak seburuk yang kita bayangkan, sebagai masa terbelakang yang mengerikan, pembunuhan di jalanan, semua orang Arab berjalan sempoyongan di bawah pengaruh khamr, dan segala kebobrokan moral.
    Zaman jahiliyah adalah sebuah istilah yang muncul bersamaan dengan kemunculan Islam. Untuk menunjukkan sebuah zaman yang berlalu sebelum Islam. Berkaitan dengan masyarakat yang tidak mengetahui agama yang benar. Dan bukan berarti menggambarkan keterbelakangan peradaban dan moral masyarakat sebelum Islam.
    Keadaan bangsa Arab pada fase ini telah menunjukkan kemajuan pola pikir dan peradaban, seperti bendungan Ma'rib sebagai bentuk kemajuan arsitektur. Begitu juga dengan tradisi perdagangan dan sosial yang maju, serta sejumlah karya sastra dan budaya seperti yang sangat terkenal, Al-Mu'allaqaat. Ini menunjukkan bahwa bangsa Arab adalah bangsa yang maju dalam segi pemikiran dan budaya.
    Masyarakat Arab memang bukan yang sempurna. Namun, mereka juga bukanlah masyarakat yang penuh dengan kerusakan. Karena sebagaimana adanya sejumlah sisi negatif dalam bangsa Arab sebelum Islam, mereka juga memiliki akhlak mulia yang tidak dimiliki berbagai bangsa di dunia saa itu, bahkan akhlak yang tidak dimiliki kebanyakan umat Islam zaman ini. Seperti menjaga kehormatan, serta kepedulian terhadap orang yang terdzalimi, bahkan penghormatan terhadap wanita. Dan itulah yang disampaikan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabdanya, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia..." Bukan "Untuk mengajarkan akhlak mulia" atau bahkan, "Menciptakan akhlak mulia." Karena memang akhlak mulia telah hidup dalam bangsa Arab sejak ratusan tahun sebelumnya. Merekapun turut mengagungkan dan memuliakan orang yang melakukannya. Dan bangsa Arab jahiliyah pulalah yang menjuluki Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan julukan Al-Amin (orang yang terpercaya). Bahkan mereka amat mencintai beliau tersebab kejujuran dan amanahnya. Bandingkan mereka dengan kaum Nabi Luth Alaihissalam yang justru membenci nabinya tersebab kemuliaan pekertinya, sambil berkata, "Usirlah Luth dan keluarganya dari desa kalian... Sungguh mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersuci.." (An-Naml:56).
    Usaha penggambaran bangsa Arab sebelum Islam sebagai bangsa primitif dibentuk oleh para pemalsu sejarah untuk mengubah gambaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari seorang Nabi yang mengajak untuk menegakkan ibadah hanya kepada Allah, menjadi sekedar tokoh perubahan norma masyarakat yang muncul dalam sebuah lingkungan tak bermoral untuk sekedar menebarkan akhlak yang baik saja. Hingga akhirnya kita semua lupa bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam datang untuk membebaskan umat manusia dari penghambaan kepada para hamba menuju penghambaan kepada Rabb segenap hamba. Serta untuk menggambarkan Islam sebagai sebuah agama akhlak saja. Maka, satu hal yang seharusnya benar-benar kita fahmi. Bahwa agama ini, yang diturunkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah agama yang sempurna dalam hal aqidah dan akhlak.
***
    Bangsa Arab adalah salah satu ras semit. Salah satu keturunan Sam putra Nabi Nuh 'Alaihissalam. Tempat tinggal utama meraka adalah wilayah semenanjung Arab yang terletak di bagian barat daya benua Asia. Ada sejumlah pendapat tentang asal-usul penamaan bangsa Arab. Ada yang berpendapat bahwa nama itu diambil dari nama pendahulu mereka Ya'rub ibnu Qathan. Adapula pendapat lainnya mengatakan bahwa bama Arab diambil dari kata kerja bahasa Arab Yu'rib, yang berarti berterus terang atau berbicara dengan jelas. Karena bangsa Arab terkenal dengan perkataannya yang fasih. Sementara sejumlah peneliti lain menyatakan bahwa asal kata 'Arab' diambil dari bahasa semit kuno yang berarti arah barat, karena penduduk Mesopotamia saat itu memberi nama 'Arab' bagi para penduduk wilayah yang terletak di sebelah barat negeri mereka. Dan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata 'Arab' berasal dari bahasa Ibrani yang mengandung makna lingkungan kesukuan.
    Adapun dari sisi sosial, kita dapat menelusuri sejumlah bukti tentang akhlak mulia yang telah hidup di antara bangsa Arab sebelum Islam yang menjadi faktor utama yang mendorong mereka menerima Islam bahkan mendorong mereka pula untuk menyebarkannya ke seluruh dunia.

  • Kejujuran
    Penduduk Arab sebelum Islam amat menekankan kejujuran dan begitu membenci kebohongan. Aktsam ibnu Shaifiy At-Tamimiy pernah berkata dalam sebuah khutbah yang terkenalnya di hadapan Kisra (raja Persia), "Kejujuran adalah keselamatan dan kebohongan akan menjatuhkan.'
    Sementara sang penyair agung Zuhair ibnu Abi Sulma Al-Muzaniy mencantumkan dalam sebuah mahakaryanya yang melukiskan berbagai akhlak mulia di masa Arab jahiliyah. Zuhair berkata, "Janganlah sekali-kali kau coba sembunyikan apa yang ada dalam hatimu dari pandangan Allah. Karena sekalipun kau sembunyikan, sungguh Allah Maha Mengetahui." Dari sinilah bangsa Arab begitu mengagungkan kejujuran dan memandang kebohongan sebagai kerendahan harga diri dan kelemahan yang tak bisa diterima. Seperti dalam kisah kaisar Heraclius (Romawi) yang tercantum dalam Shahih Bukhari, ketika ia hendak bertanya tentang kepribadian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melalui sejumlah pertanyaan yang ia lontarkan kepada seorang sahabat yang mulia, Abu Sufan ibnu Harb Radhiyallahu 'Anhu sebelum ia memeluk Islam. Saat itu Abu Sufyan merasa malu untuk berdusta tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di hadapan sejumlah orang Arab musyikin sekalipun ia begitu memusuhi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam saat itu. Dan tercantum dalam sebuah hadits shahih bahwa Abu Sufyan berkata, "Demi Allah, seandainya bukan karena rasa malu jika orang-orang Arab mendengarku telah berdusta. Sudah tentu aku akan berdusta saat Heraclius bertanya padaku. Namun aku malu jika tersiar kabar bahwa aku telah berdusta." Sementara dalam riwayat Ibnu Ishaq, Abu Sufyan berkata, "(Padahal) sekalipun aku berdusta, mereka tak akan memberi tahu (Heraclius). Namun aku adalah orang terhormat. Yang tak sudi untuk berdusta."
    Secara Hakiki, seorang Arab sekalipun bukan seorang pandai agama, pasti memiliki sifat jujur. Kalau bukan karena agamanya, maka ia lakukan untuk menjaga harga dirinya. Bandingkanlah akhlak ini dengan akhlak sejumlah kaum yang menganggap dusta sebagai kecerdasan. Sifat jujur yang ada pada bangsa Arab jahiliyah inilah yang akan menjadi salah satu sifat paling penting dalam keberhasilan dakwah yang Allah perintahkan kepada segenap umat manusia. Maka, kaum inilah yang dikenal dengan kejujurannya bahkan dalam kemusyikan mereka. Merekalah yang pantas untuk mengemban tugas penyusunan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tanpa pemalsuan dan manipulasi. Bandingkanlah bangsa Arab yang jujur ini dengan bangsa yang telah mengubah risalah dan kitab suci mereka.

  • Kesetiaan
    Kesetiaan adalah salah satu sifat terpenting yang dimiliki oleh bangsa Arab. Maka, orang Arab yang memiliki kedudukan terhormat, mereka siap mati demi sebuah kesetiaan. Baik itu untuk kabilah mereka, maupun untuk suami dan istrinya. Juga kesetiaan dalam janji dan ucapan. Maka  siapa saja yang memiliki sifat ini, ia akan sangat dimuliakan oleh kaumnya. Maka, ketika Islam datang dan mengajak semua orang untuk memegang teguh kesetiaan, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mendapat kesulitan apapun dalam menanamkan akhlak ini pada diri generasi awal umat ini. Sifat kesetiaan akan menjadi salah satu sifat utama yang mendorong keberhasilan dakwah Islam di seluruh dunia. Karena kesetiaan umat Islam dalam memegang janjinya bahkan terhadap umat di luar Islam menjadi kelebihan tersendiri. Bahkan di mata musuh mereka. Dan salah satu sahabat yang mulia, Al-Miqdad ibnu Aswad Al-Kindiy menjelaskan kepada kita dalam kalimat singkatnya yang ia sampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesaat menjelang perang Badr. Ketika sang kesatria Arab ini berdiri dan berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, "Ya Rasulullah... Lakukanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. Karena kami selalu bersamamu. Demi Allah, tak akan kami berkata seperti Bani Israil kepada Nabi Musa... Pergilah kau berperang bersama Rabb-Mu. Kami akan duduk menunggu disini. Melainkan (Ya Rasulullah) Pergilah engkau berperang bersama Rabb-Mu. Sungguh kami 'kan berperang di belakang kalian berdua."

  • Keberanian
    Dakwah Islamiyah sama seperti usaha penyebaran agama lainnya, membutuhkan para kesatria pemberani yang mengorbankan arwah mereka untuknya. Hal ini amatlah mudah bagi bangsa Arab yang sejak sebelum Islam datang mereka siap mati untuk membela keluarganya atau demi apapun yang mereka yakini. Bahkan mereka lebih memilih untuk mati di medan perang daripada harus mati karena sebab lainnya. Sifat yang tertanam kokoh dalam jiwa bangsa Arab inilah yang turut memudahkan tugas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam menanamkan makna perjuangan untuk syahid. Karena dalam hal ini, peran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah merubah makna kematian demi membela keluarga yang selama ini di yakini bangsa Arab ke arah sebuah tujuan yang lebih tinggi dan mulia dan lebh bermakna, yaitu mati demi berjuang di jalan Allah. Maka jangan heran ketika melihat keberanian para sahabat dan generasi awal umat ini, karena mereka adalah anak cucu generasi Arab yang pemberani. Bayangkan saja, seandainya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di utus kepada bangsa yang berisi para penakut yang harus dipaksa agar turun ke medan perang, seperti bangsa Persia. Pasti tugas Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan menjadi jauh lebih sulit.

  • Dermawan
    Bangsa Arab terkenal dengan sifat dermawan sejak dahulu dan kebiasaan memuliakan para tamu sejak dahulu hingga hari ini. Dan masih merupakan salah satu sifat terpenting bangsa Arab. Hal ini dapat kita lihat dalam berbagai kisah kemurahan hati Hathim Ath-Tha'iy, sebagaimana orang-orang yang kikir amat dibenci dalam masyarakat Arab. Dan sifat dermawan kelak akan menjadi salah satu pendorong keberhasilan dakwah Islam. Karena dalam dakwah dibutuhkan orang-orang yang siap untuk berkorban dengan harta mereka di jalan Allah. Para sahabat yang amat dermawan, seperti Utsman ibnu Affan, Thalhah ibnu 'Ubaidillah beserta Abu Bakr, Umar, Ali, Abdurahman ibnu Auf, dan para sahabat derwaman lainnya yang turut memperjuangkan dakwah Islam dengan harta benda mereka sebelum mengorbankan nyawa mereka.

  • Menjaga Harga Diri
    Sifat ini berarti menahan diri dari segala hal yang tidak halal dan tidak pantas. Baik itu berupa perbuatan maupun ucapan. Dan bangsa Arab di zaman jahiliyah tidak seperti yang sering digambarkan media kepada kita dan juga sejumlah buku sejarah. Karena bangsa Arab amat menekankan pentingnya menjaga harga diri yang amat mereka banggakan dan menghiasi kehidupan mereka. Mereka juga memandang kesopanan saat berbicara di dalam majelis dan perkumpulan sebagai salah satu ukuran kedudukan seseorang. Seperti yang dikatakan Zuhair ibnu Abi Sulma, "Separuh kehormatan pemuda adalah lisannya. Dan sisanya ada di dalam hatinya. Selain itu, hanyalah daging dan darah."
    Sementara gambaran yang sering kita dengar tentang Arab jahiliyah adalah mereka hanya sekumpulan pemabuk yang berjalan sempoyongan karena banyaknya khamr yang mereka minum. Dan ini bukanlah gambaran sebenarnya tentang bangsa Arab. Karena bahkan adat suku-suku Arab jahiliyah amat merendahkan derajat seorang pecandu khamr. Khamr memang pernah dihalalkan dalam masyarakat Arab sebagaimana yang dilakukan oleh bangsa lainnya di zaman itu. Namun, kebiasaan bangsa Arab dalam hal ini tidak seburuk keadaan bangsa lainnya yang amat tergantung pada khamr. Contohnya, ketika Tharf ibnu 'Abd sang penyair meminum khamr secara berlebihan, maka ia lantas diusir oleh kaumnya sendiri karena ia dianggap telah keluar melampaui batasan adab kehidupan dan kehormatan. Bahkan di zaman jahiliyah pula tidak sedikit orang Arab yang mengharamkan khamr atas diri mereka. Seperti Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak pernah sekalipun meminumnya. Dan banyak dari para sahabat seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq Radhiyallahu 'Anhu yang  tidak pernah meminum khamr bahkan di zaman jahiliyah. Karena khamr hanya merendahkan kehormatan orang yang berakal sehat di hadapan orang banyak. Dan menghilangkan wibawa dan kehormatannya. Maka khamr pun diharamkan oleh seorang pemuka Quraisy, kakek Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Abdul Mutthalib ibnu Hasyim dan Syabah ibnu Rabi'ah, salah satu pemuka Bani Abdi Syams. Begitu pula dengan Utsman ibnu Affan Al-Umawiy, serta Waraqah ibnu Naufal Al-Asadiy Al-Qurasyiy, Abdullah ibnu Jud'an At-Taimiy yang berasal dari kabilah Abu Bakr. Sebagaimana Al-Abbas ibnu Mirdas As-Sulamiy pernah berkata, "Tak sudi aku menenggak minuman, yang dengannya, seorang pemuka kaum, menjadi sama dengan orang terendah mereka." Begitu juga dengan Al-Walid ibnul Mughirah yang turut mengharamkan. Seorang pemuka Bani Makhzum sekaligus ayahanda bagi sang pemberani Khalid ibnu Walid Radhiyallahu 'Anhu sama halnya dengan Qais ibnu 'Ashim At-Tamimiy Radhiyallahu 'Anhu yang juga mengharamkannya sejak masa jahiliyah. Dan ia katakan dalam syairnya, "Bagiku khamr itu amatlah jelas. Sungguh ia merusak manusia yang berakal sehat. Dan sungguh khamr itu mempermalukan peminumnya dan menjerumuskan ke dalam kubangan kehinaan."
    Maka ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di utus kepada sebuah kaum yang bukan pecandu khamr yang terbiasa kehilangan kesadaran selama berjam-jam. Hal ini memudahkan usaha beliau dalam memahamkan mereka. Bayangkan saja jika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di utus kepada kaum yang hampir tidak terbangun dari tidur mabuk mereka. Bagaimana mungkin beliau mendapat kesempatan utnuk mendakwahi mereka. Apalagi jika beliau harus meyakinkan mereka akan keharaman khamr.

  • Zina
    Adapun tentang  penyebaran zina dengan amat luas di seluruh lini masyarakat jahiliyah, maka ini merupakan sebuah anggapan yang salah. Karena pada kenyataannya, para wanita merdeka jahiliyah amat menjaga kehormatan dan harga diri mereka bahkan sebelum ke-Islaman mereka. Seperti yang tercantum dalam riwayat, saat Hindun bintu 'Utbah radhiyallahu 'anha memeluk Islam. Kala Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam hendak membaiatnya bersama para muslimah lainnya seraya menjelaskan tuntunan Islam kepada mereka. Maka ketika beliau sampai pada ucapannya yang berbunyi,"Dan (seorang muslimah) tidak akan berzina dan mencuri." Hindun bintu 'Utbah lantas bertanya penuh keheranan, "Mungkinkah seorang wanita merdeka berzina?!" Hal ini menunjukkan bahwa di zaman itu hampir tidak mungkin ada seorang wanita merdeka yang berzina. Sikap menjaga kehormatan ini meskipun sebatas adat, akan memudahkan mereka kala menjaga sejumlah pantangan dalam ajaran Islam. Sikap ini juga amatlah penting dalam membangun sebuah masyarakat yang baik serta untuk menjamin garis keturunan masyarakat Arab tetap terjaga. Dan juga merupakan faktor penting dalam menjaga kehormatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di mata bangsa lain karena garis keturunannya yang mulia dan seluruh generasi awal umat ini yang kebanyakan berasal dari bangsa Arab. Sehingga, salah satu pertanyaan Heraclius kepada Abu Sufyan adalah pertanyaan tentang Rasul. Ia berkata, "Bagaimana kedudukan garis keturunannya di mata kalian?"

  • Menjaga Kehormatan
    Sifat ini bagi orang Arab hingga kini masih merupakan faktor terpenting yang harus ada dalam diri seorang Arab asli. Karena seorang Arab siap untuk mati demi kehormatan dirinya. Seperti yang dikatakan 'Antarah, "Tak usah kau berikanku hidup dalam kehinaan. Namun, berilah aku harga diri meskipun ia pahit. Karena hidup dalam kehinaan bagaikan neraka. Dan neraka dengan kehormatan lebih utama bagiku." Karena inilah, bangsa Arab tidak memiliki negara yang satu sebelum Islam. Karena secara alami, seorang Arab mustahil untuk tunduuk kepada siapapun. Dan Islam adalah satu-satunya pemersatu bangsa Arab. Bahkan ada sejumlah peneliti menyatakan bahwa asal kata 'Arab' adalah 'Irab' yang berarti kebebasan dan ketidakpatuhan. Karena itulah angsa Arab tidak memiliki seorang raja sebelum Islam. Bahkan ketika mereka memiliki seorang raja simbolis yang tidak lama berkuasa. Raja ini mereka bunuh ketika ia berniat untuk merendahkan harga diri mereka. Dan seperti ketika 'Amr ibnu Kultsum At-Taghlubiy membunuh sang raja bernama 'Amr ibnul Munzhir ibnu Imri'il Qais ibnu Nu'man Al-Lakhmiy, yang terkenal dengan 'Amr ibnu Hind, 'Amr ibnu Kultsum membunuh sang raja di dalam rumah sang raja. Hal itu karena ibu sang raja, 'Amr ibnu Hind berrniat untuk melecehkan ibu dari 'Amr ibnu Kultsum yang bernama Laila bintu Zilzal, salah satu pemuka bangsa Arab. Lantas ia memenggal kepala sang raja, 'Amr ibnu Hind.
    Sikap menjaga kehormatan ini akan menjadi salah satu sifat terpenting bagi generasi awal umat ini. Bayangkan saja jika agama ini diturunkan pertama kali kepada kaum yang bermental kerdil dan berkepribadian bak budak. Maka tidak mengherankan karena mereka terbiasa tunduk pada perintah penguasa. Namun, ketika agama ini diturunkan kepada kaum yang berhati keras dan mereka mau untuk tunduk kepadanya. Dari sini akan tergambar dalam pikiran umat lain bahwa ketundukkan bangsa Arab yang dikenal suka memberontak ini berserah secara penuh kepada tuntunannya. Hal ini menunjukkan kebenaran yang dibawanya. Sifat keperibadian yang tinggi ini pula yang merupakan salah satu sifat terpenting yang amat diperlukan dalam melakukan sejumlah negosiasi di hadapan raja-raja Persia dan Romawi.
    Seorang Arab secara alamiah bersifat tinggi hati. Hingga datanglah Islam yang semakin menambah harga diri mereka. Maka dari itu, ketika seorang kaisar Romawi Nikephoros I berniat untuk merendahkan khalifah Harun Ar-Rasyid rahimahullah dalam sebuah surat yang ia kirimkan kepada sang Amirul Mu'minin. Harun Ar-Rasyid pun lantas menulis kalimat balasannya di balik halaman surat tersebut, "Dari Harun Ar-Rasyid, Amirul Mu'minin, kepada Nikephoros I anjing Romawi! Telah kubaca suratmu, wahai putra wanita kafir! Dan jawabannya adalah yang kau lihat sendiri, bukan yang kau dengar!"
    Begitu juga ketika terjadi perang Khandaq, yaitu ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berusaha untuk membuka pengepungan atas umat Islam di Madinah dengan negosiasi bersama sejumlah pasukan yang mengepung kota Madinah. Beliau menawarkan sepertiga produksi buah Madinah selama satu tahun untuk mereka. Beliau melakukan ini demi menyudahi kesulitan yang menimpa kaum muslimin dan untuk memecah persatuan pasukan musuh. Namun, sebelum menyetujui perundingan itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bermusyawarah dengan pemuka Aus dan Khazraj. Yaitu dua orang sahabat yang mulia, Sa'd ibnu Mu'adz dan Sa'd ibnu 'Ubadah radhiyallahu 'anhuma. Saat itu berdirilah sang pemuka Anshar, sang kesatria Arab, Sa'd ibnu Mu'adz radhiyallah 'anhu untuk meyakinkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa mereka adalah orang-orang terhormat sejak zaman jahiliyah. Apalagi setelah Allah memuliakan mereka (dengan Islam). Saat itu Sa'd ibnu Mu'adz radhiyallahu 'anhu berkata, "Ya Rasulullah.. Dahulu kami bersama mereka dalam kesyirikan menyembah berhala dan tak mengenal Allah. Dan ketika itu, mereka tidak bisa memakan buah-buah kami satu butirpun kecuali dengan membeli dan membayarnya. Lantas, apakah setelah Allah memuliakan kami dengan Islam dan menunjuki kami hidayah serta kejayaan bersamamu. Apakah sekarang kami akan menyerahkan harta kami..? Kami tidak butuh perdamaian itu! Demi Allah, hanya pedang yang akan kami berikan untuk mereka! Biarlah Allah yang tentukan hukum-Nya di antara kami."

  • Penghormatan Terhadap Wanita
    Banyak pihak yang mengira bahwa bangsa Arab jahiliyah tidak memberikan hak kaum wanita yang semestinya. Mungkin penyebab pandangan ini adalah fenomena Wa'dul Banaat di zaman jahiliiyah, yaitu adat mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan sejarah adat yang tidak berperikemanusiaan ini adalah kisah seorang lelaki yang putrinya di tawan oleh kabilah musuhnya dalam sebuah pertempuran. Dia lantas mendatangi kabilah itu untuk menebus putrinya dengan sejumlah harta. Namun, sang putri menolak untuk kembali kepada ayahnya dan lebih memilih untuk tinggal bersama kabilah musuhnya. Ayahnya merasa amat terpukul dan bersumpah untuk membunuh setiap putri yang lahir untuknya. Maka mulailah sejumlah masyarakat Arab menguburkan bayi putri mereka langsung setelah kelahiran. Fenomena ini memang salah satu adat paling keji yang ada di dalam tradisi masyarakat jahiliyah. Namun pandangan yang berlebihan terhadap fenomena ini, membuat sebagian orang mengira bahwa bangsa Arab tidak memiliki budaya apapun selain membunuh bayi perempuan. Padahal ini tidak sesuai dengan fakta-fakta sejarah serta tidak masuk akal dan logika. Karena jika ini merupakan adat seluruh bangsa Arab, tentu mereka sudah punah sekarang dan tidak akan ada seorang wanita pun yang melahirkan keturunan. Karena sebenarnya, adat membunuh bayi perempuan ini tidaklah terlalu populer dalam masyarakat Arab saat itu. Begitu juga dengan kisah Umar ibnu Khattab radhiyallahu 'anhu mengubur putrinya hidup-hidup sebelum masuk Islam. Kisah ini adalah fiktif dan manipulasi bekala. Tidak berdasar dan tidak memiliki sanad (jalur periwayatan).
    Pada kenyataannya, akan kita dapati bahwa wanita memiliki kedudukan yang terhormat dalam masyarakat jahiliyah. Di zaman jahiliyah banyak kaum wanita yang menjadi saudagar, yang mengatur sejumlah pekerja laki-laki, seperti Khadijah radhiyallahu 'anha. Selain itu, ada sejumlah wanita zaman jahiliyah yang menjadi penyair. Yang memamerkan syair mereka di 'Ukazh (tempat pertunjukkan para penyair) menyaingi penyair lelaki lainnya. Diantaranya adalah Al-Khansa' radhiyallahu 'anha.
    Kaum wanita di zaman jahiliyah juga turut menyertai kaum lelaki di peperangan, seperti Hindun bintu 'Utbah radhiyallahu 'anha yang pernah menyertai pasukan Quraisy sebelum ke-Islamannya. Dan beliau pulalah yang kelak menyertai pasukan Islam di pertempuran Yarmuk dalam menghadapai Romawi. Dan dapat kita cermati pula, keetika pecahnya peperangan terbesar dalam sejarah Arab jahiliyah yang terjadi bukan karena seorang raja, atau lelakki, melainkan demi membela seorang wanita.
    Bandingkan perilaku seorang Arab jahiliyah yang kafir dengan perilaku sebagian umat Islam di zaman ini yang menyaksikan wanita muslimah di lecehkan di jalanan di hadapannya dan mereka hanya bisa terdiam. Akhlak bangsa Arab yang mulia ini adalah akhlak yang juga diwarisi oleh generasi sahabat. Maka ketika ada seorang sahabat radhiyallahu 'anhu yang melihat seorang muslimah yang menjerit karena ulah seorang Yahudi dari Bani Qainuqa' yang hendak menyingkap pakaiannya. Maka sang sahabat tak tinggal diam, lantas membunuh si Yahudi yang melecehkan kehormatan sang muslimah. Hingga berkumpulah sejumlah Yahudi kemudian membunuh sahabat itu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengumumkan perang atas kaum Yahudi Bani Qainuqa'. Dan semua itu demi membela satu orang muslimah saja.
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan generasi sahabat, mereka adalah penerus budaya Arab yang mulia ini. Yang begitu memuliakan kaum wanita bahkan sebelum ke-Islaman mereka. Lalu mereka menjadikannya sebagai bentuk ibadah kepada Allah setelah mereka mengenal Islam. Seperti halnya dengan kisah seorang khalifah Abbasiyah, sang keturunan Quraisy, Al-Mu'tashim Billah, yang mengerahkan pasukan Islam yang amat besar ke wilayah Romawi demi menyelamatkan satu orang muslimah, yang memanggil-manggil namanya seraya berkata, "Wahai Al-Mu'tashim...!"
    Dan ada seorang tokoh dari Oman, yang bernama Ash-Shaltu ibnu Malik Al-Kharusiy Al-Yahmudi yang berasal dari Qabilah Al-Azd Al-Qathaniyah. Sang tokoh dari Oman ini bergerak dengan sejumlah perahunya menuju pulau Socotra di Samudera Hindia setelah mendengar bahwa ada seorang muslimah yang meminta pertolongannya.
    Semua tokoh ini, dimana mereka tumbuh dalam keyakinan bahwa kedudukan seorang wanita lebih berharga dari nyawa mereka. Maka jadilah  lingkungan Arab yang telah menumbuhkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beserta para sahabat merupakan sebuah lingkungan yang paling mudah merenerima ajaran Islam yang amat memuliakan kaum wanita.

****
    Inti dari semua ini adalah bahwa masyarakat Arab jahiliyah bukanlah sekumpulan malaikat yang sempurna, yang tetap memiliki banyak kekurangan. Seperti yang paling jelas adalah budaya kesyirikan, rasisme, fanatik kesukuan, budaya membunuh bayi perempuan serta ketidakstabilan politik. Namun, masyarakat ini bukan pula kumpulan para perusak seperti yang seing di propagandakan. Karena sekali lagi, bahwa masyarakat ini adalah masyarakat yang paling siap untuk menerima ajaran Islam yang disebabkan beberapa faktor sosial dan budaya. Namun, yang lebih penting daripada itu, dalam pemilihan bangsa Arab untuk pengutusan seorang Nabi yang paling mulia beserta sebagian besar generasi sahabat, generasi terbaik yang pernah terlahir untuk umat manusia. Hal ini adalah bahwa pemilihan ini sepenuhnya adalah karunia Allah. Dan Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Dan segala puji bagi-Nya atas segala curahan nikmat dan karunia. Namun, di saat yang sama, hendaklah setiap orang Arab untuk tidak terpukau dengan hal ini. Karena Allah tidak memandang kepada garis keturunan, seperti Bilal yang datang dari Afrika, yang jauh lebih mulia di sisi Allah dari Abu Lahab Al-Hasyimi Al-Qurasyi Al-'Adnani. Dan umat ini tidak dipertahankan oleh bangsa Arab saja. Dan di tulisan ini, saat kita membela bangsa Arab adalah untuk membela Rasul kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia. Dan dapat kita perhatikan, bahwa siapa saja yang mencintai Islam maka pasti ia mencintai bangsa Arab dan bahasanya. Dan siapa saja yang membenci Islam, pasti ia membenci bangsa Arab dan bahasanya. Semua pembelaan ini adalah jawaban atas berbagai tuduhan yang dilemparkan kepada kaum Arab secara umum. Ketika serangan atas kedudukan bangsa Arab menjadi pembuka jalan yang dipakai oleh para pembenci Islam untuk merendahkan kedudukan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka, jika Anda bertemu dengan salah seorang rasis yang sangat membenci bangsa Arab kemudian ia merendahkan kaum yang darinya pula Nabinya berasal, maka mintalah ia untuk diam sejenak dan katakan pada mereka, "Bahwa bangsa Arab itu mulia sejak sebelum Islam, kemudian datanglah Islam yang menambah kemuliaan dan kehormatan mereka."

Catatan : Tulisan ini diambil dari sebuah video milik Jihad At-Turbany. Dengan sedikit penyederhanaan yang tanpa mengurangi maksud dan tujuan. Semoga buku karya Jihad At-Turbany ini bisa diterjemanhkan ke dalam bahasa Indonesia segera mungkin. Dan semoga Allah selalu memberikan kesehatan dan keberkahan bagi beliau dan kepada kami yang berusaha membagikan ilmu-Nya. Dan semoga tulisan ini menjadi catatan amal kami di akhirat kelak.

You Might Also Like

0 komentar

Subscribe